PELATIHAN PRODUK OLAHAN TURUNAN MANGROVE
Peserta pelatihan terdiri dari berbagai Kelompok wanita nelayan, penyuluh perikanan dan staf kelurahan yang bekerja sama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan Bidang Pengelolaan Ruang Laut pada subkoordinator Konservasi Kelautan dan Perikanan yang pelaksanaannya diketuai oleh Yuliana Nidyasari. Acara ini dilaksanakan di Hotel Ika dan dibuka oleh M. Ali Aripe selaku Kabid Pengelolaan Ruang Laut. Ekosistem mangrove berperan menjaga kestabilan produktivitas dan ketersediaan sumberdaya hayati wilayah pesisir. Secara ekonomi, ekosistem mangrove berfungsi sebagai fishing ground (daerah penangkapan ikan) yang produktif, seperti penghasil nener, ikan, udang dan biota lainnya. Selain itu, Mangrove juga menghasilkan berbagai produk yaitu kayu, bahan pewarna, makanan, madu, obat-obatan, kosmetika dan lain-lain. Mangrove juga dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan yang memiliki cita rasa dan bernilai ekonomis tinggi. Pengolahan buah mangrove menjadi aneka jenis makanan merupakan salah satu peluang usaha bagi masyarakat pesisir yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Dalam kegiatan pelatihan ini disampaikan oleh Hery Gunawan Daulay, Koordinator Restorasi Ditjen Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dengan Materi Edukasi dan Pendampingan kepada masyarakat dalam pengembangan produk olahan turunan mangrove, Sapar Kepala Bidang Perikanan Budidaya dari Dinas Perikanan kabupaten Penajam Paser Utara dengan Materi Kebijakan Dinas dan Nikmatul Jennah dengan Materi dan Praktik Membatik menggunakan pewarna alam (Mangrove). Setelah pemaparan materi dilanjutkan dengan praktek membatik. Bahan pewarna yang digunakan dalam pelatihan produk olahan turunan mangrove berasal dari bahan pewarna alami buah mangrove dari jenis Rhizophora stylosa yang dikeringkan. Tahapan awal dalam membatik yaitu membuat pola dasar pada kain prima dan dilanjutkan proses pelekatan lilin/malam dengan menggunakan canting. Acara dilanjutkan keesokan harinya, Kamis (25/08/2022) yaitu kegiatan pewarnaan kain. Tahap ini dilakukan dengan mencelupkan kain kedalam pewarna yang sudah disiapkan. Langkah ini dilakukan beberapa kali pencelupan sampai didapatkan warna kain yang diinginkan. Tahap akhir dilakukan pelepasan lilin dengan cara merebus kain dalam air mendidih yang telah dicampur tepung tapioka dan tawas, setelah itu kain dibilas dan dijemur sampai kering. “Diharapkan setelah kegiatan ini dapat berlanjut dan bermanfaat dalam peningkatan perekonomian bagi masyarakat ” ujar M. Ali Aripe.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




