REHABILITASI TERUMBU KARANG DI KEPULAUAN DERAWAN
Dalam rangka mendukung program Pemerintah Indonesia, untuk menyelamatkan ekosistem laut maka Yayasan WWF Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Daerah Berau, Kalimantan Timur melakukan rehabilitasi terumbu karang. Yayasan WWF Indonesia merupakan mitra pengelolaan kawasan konservasi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur sejak tahun 2019. Untuk monitoring kawasan tersebut, maka Yayasan WWF Indonesia melakukan monitoring pemantauan kesehatan terumbu karang. Data tahun 2021 menunjukkan nilai tutupan karang keras di kawasan ini adalah 32,8%. Angka ini menunjukkan kategori kondisi kesehatan terumbu karang relatif sedang (35-40,9%). Melalui Ocean Governance Project yang didanai Uni Eropa, kegiatan ini akan dilakukan hingga Desember 2023 di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS). Proyek ini dipimpin oleh GOPA, bersama dengan mitra konsorsium B&S Eropa dan WWF. Proyek ini bertujuan untuk melindungi dan memulihkan ekosistem laut, serta sebagai katalis untuk membangun kedamaian dan keamanan serta mendorong ekonomi berkelanjutan. Dalam acara kick off meeting tanggal 13 Juli 2022 di Hotel Bumi Segah, Kabupaten Berau ini juga dilakukan penandatanganan berita acara kesepakatan berisi dukungan terhadap pelaksanaan Ocean Governance Project oleh para pemangku kebijakan bersama Yayasan WWF Indonesia dan Delegasi EU. Dalam kesepakatan ini berisikan tentang kegiatan yang akan dilakukan yaitu, rehabilitasi terumbu karang, pendampingan kelompok masyarakat seperti perbaikan perikanan tangkap yang berkelanjutan, wisata bahari yang bertanggung-jawab, serta mitigasi dan proteksi spesies laut terancam punah. Ini dilakukan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Perikanan Berau dan mitra terkait lainnya. Hadir pada acara kick off meeting ini Dedy Eka Syaputra, M. Si, Kepala Seksi Penataan Kawasan Konservasi Nasional, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Mohamad Ali Aripe, A. Pi, M. Si,Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Puri Canals perwakilan GOPA, dan Candhika Yusuf, Program Manager Marine Biodiversity, Yayasan WWF Indonesia. Mohamad Ali Aripe, Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur menyampaikan, “Sesuai dengan yang tertulis di dalam Rencana Pengelolaan Zonasi (RPZ) KKP3K KDPS, bahwa pengelolaan kawasan konservasi diharapkan tidak hanya diimplementasikan oleh DKP Provinsi saja, namun juga membutuhkan dukungan multipihak untuk menginisiasi program-program yang sejalan sebagai upaya untuk memulihkan ekosistem laut dan meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir di Kepulauan Derawan dan Sekitarnya.” Pernyataan delegasi EU - Henriette Faergemann yang disampaikan oleh Puri Canals, PhD, “Masa depan laut kita saat ini sedang dipertaruhkan. Untuk itu konferensi kelautan PBB ini telah menunjukkan ambisi global yang tinggi, sehingga perlu diimbangi dengan upaya bersama yang efektif untuk meningkatkan perlindungan dan pengelolaan wilayah laut dan pesisir kita”. Lanjut Puri, “Kami percaya bahwa melindungi dan memulihkan ekosistem laut dapat berfungsi sebagai katalis untuk memastikan perdamaian, pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan kesejahteraan sosial - dari tingkat lokal hingga regional.” Candhika Yusuf, Program Manager untuk Marine Biodiversity Yayasan WWF Indonesia menuturkan, ”Dalam upaya mendukung pelestarian ekosistem dan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan di KKP3K KDPS, maka diperlukan adanya pendekatan yang adaptif dan kerjasama yang luas dengan mitra lokal maupun jaringan pemangku kepentingan seperti, Yayasan Penyu Berau (YPB), Asosiasi Guide Snorkeling Derawan (AGSD), serta mitra lainnya yang turut berkontribusi. Kedepannya, diharapkan melalui implementasi Ocean Governance Project, dapat berkontribusi dalam peningkatan efektifitas pengelolaan KKP3K KDPS yang dilakukan setiap tahun menggunakan penilaian EVIKA, Evaluasi Pengawasan Kawasan Konservasi yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.” Rehabilitasi terumbu karang yang dilakukan oleh Yayasan WWF Indonesia menggunakan metode Rock Pile dan Reef Star. Instalasi rock pile dan reef star dilakukan di 3 titik pada lokasi terpilih yaitu di gugusan Karang Tebbabinga, Gusung Senggalau bagian timur dan Gusung Senggalau bagian utara di Pulau Derawan. Lokasi ini telah memenuhi kriteria sebagai site rehabilitasi, dimana tutupan patahan karang (rubble) lebih dari 20?n memiliki area yang landai lebih dari 50 x 20 meter. Pada tiga area terpilih akan ada 27 unit rock pile dan 75 unit reef star yang dibangun. (Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Kaltim dan Publikasi Yayasan WWF Indonesia, 2022).






