SOSIALISASI PENGEMBANGAN DAN PEMBANGUNAN WISATA BAHARI DAN WISATA PANTAI DI KOTA BALIKPAPAN
Peserta
terdiri dari para pelaku usaha wisata bahari, Pushidrosal, Lanal, Polairud,
kelompok nelayan/pembudidaya, dan pemerhati lingkungan. Kegiatan ini merupakan
salah satu kegiatan Reklamasi dan Jasa Kelautan yang pelaksanaannya diketuai
oleh Vito Yuwono. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan Prov. Kalimantan Timur, Riza Indra Riadi. “Pengelolaan
kawasan wisata bahari dan wisata pantai diharapkan nantinya dapat dikembangkan
menjadi desa wisata bahari atau Dewi Bahari”, ungkapnya. Selain itu dengan
pengelolaan berbasis masyarakat dan mengedepankan potensi lokal diharapkan
dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi dari pemanfaatan jasa sumberdaya
kelautan dan perikanan. Dilanjutkan
keesokan harinya, Selasa (29/06/2021) sesi penyampaian materi dan diskusi
dengan peserta dimoderatori oleh M. Ali Aripe, Kepala Bidang Pengelolaan Ruang
Laut DKP Prov. Kaltim. Pemateri yang dihadirkan diantaranya Dinas Pariwisata
Prov. Kaltim, Ahmad Herwansyah, Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (DPMPTSP) Prov. Kaltim, Rachmadian Noviansjah, Dinas Lingkungan
Hidup Prov. Kaltim, M Chamidin, serta dari Dinas Pangan, Pertanian dan
Perikanan Kota Balikpapan, Tatang Priatna. Selain itu, turut hadir sebagai
narasumber, Direktur Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Miftahul
Huda, yang menyampaikan materi secara online. “Semua
pihak bisa mendapatkan keuntungan dan investasi pun bisa tetap berlanjut ketika
masyarakat lokal mempunyai peran besar dalam pembangunan destinasi maupun
atraksi wisata bahari”, ujarnya. Selain itu Miftahul Huda juga mengungkapkan
bahwa masyarakat lokal yang memanfaatkan perairan harus menjadi prioritas dan
harus difasilitasi oleh pemerintah. Sebagai
penutup rangkaian acara, peserta diajak untuk mengikuti field trip wisata
bahari di Mangrove Center Graha Indah Balikpapan. Agus Bei sebagai pendiri
sekaligus penggagas Mangrove Center Graha Indah telah berhasil menjaga dan
mengelola hutan mangrove sebagai habitat Bekantan (Nasalis larvartus)
sehingga tetap lestari dan berpotensi untuk dijadikan sebagai Desa Wisata
Bahari. Dengan pengelolaan berbasis masyarakat lokal, masyarakat merasa ikut
andil dalam memelihara serta merehabilitasi kawasan mangrove sehingga
diharapkan bisa berdampak pada perputaran sektor ekonomi.





